OKEZONE.asia - Partai Demokrat semakin genjar melayangkan kritik kepada pemerintah Joko Widodo.
Utang Indonesia dipastikan akan terus
melonjak. Sebab, pemerintah baru saja menerbitkan obligasi global atau
surat utang global dengan nilai US$ 4,3 miliar atau Rp 68,8 triliun
(kurs Rp 16.000) dengan tenor 50 tahun.
Sejumlah kebijakan pemerintah Jokowi
pun dikuliti, seperti kebijakan penanganan virus Corona atau Covid-19
dan penerbitan surat utang dengan tenor 50 tahun.
Wasekjen Partai Demokrat, Rachland
Nashidik mengkritik Jokowi yang pernah menjadi sosok anti-utang, tapi
sekarang malah menumpuk utang.
“Tidak ada yang bilang negara tak
boleh berutang. Yang berjanji tak bakal berutang kalau menang, nyatanya
bikin utang jauh lebih banyak, ada!,” sindir Rachland.
Ia mengunggah video lawas Jokowi saat
diwawancarai wartawan terkait rencana menerbitkan obligasi atau surat
utang. Saat itu, Jokowi menolak berutang.
“Wong duitnya aja banyak, ngapain
harus ngutang-ngutang? Saya gak tahu obligasi untuk apa gak ngerti, saya
belum ngerti itu. Tapi silpa (sisa lebih pengguna anggaran) kita aja
Rp6 triliun. Ini nanti bisa kejadian lagi tahun ini, (silpa) 6-7
triliun. Nah kenapa harus pakai obligasi obligasian,” kata Jokowi dalam
video tersebut.
Rachland menyebut Jokowi telah membuat pertumbuhan ekonomi anjlok dan mencetak utang tertinggi.
“Pak Jokowi versi anti-utang ini dulu
Anda pilih sebagai Presiden. Setelah terpilih, ia justru mencetak rekor
presiden dengan utang tertinggi. Dan orang di belakang anjloknya
pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ia kini memerangi pandemi dengan anggaran
yang lebih berat pada ekonomi,” tandas Rachland.
Seperti diketahui, utang luar negeri
Indonesia per akhir Januari 2020 membengkak menjadi US$410,8 miliar.
Jika dirupiahkan, utang tersebut tembus Rp6.115,6 triliun (Kurs Rp14.887
per dolar AS).
Utang tersebut tumbuh 7,5 persen jika
dibandingkan dengan Desember 2019. Utang tersebut tumbuh melambat jika
dibandingkan dengan November 2019 yang naik 7,7 persen.
Data Bank Indonesia, utang tersebut
dihimpun oleh sektor swasta, termasuk BUMN sebesar US$203 miliar. Selain
itu, utang juga berasal dari pemerintah dan bank sentral sebesar
US$207,8 miliar.


